Perbedaan Fiqh Ibadah Dan Muamalah

Perniagaan sudah menjadi urat nadi perekonomian masyarakat Arab sejak sebelum Islam datang. Bahkan Rasulullah pun kita kenal sebagai pedagang pada awalnya. Maka tidak heran bila pada masa itu, berbagai macam akad atau transaksi ekonomi banyak berkembang di kalangan masyarakat Arab. Oleh Rasulullah, setelah beliau menjadi pemimpin umat di sana, berbagai macam akad itu kemudian diseleksi dan dikoreksi. Beberapa akad yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Islam kemudian dilarang, sejumlah akad lainnya dikoreksi dan ada pula yang masih boleh terus dilakukan, karena memang tidak ada unsur yang melanggar ajaran Islam.

Dalam mengatur hubungan sesama manusia dalam hal kepemilikan, harta, jasa dan pertukaran lainya, para Ulama menyebutnya dengan istilah fiqh muamalah. Berbeda dengan fiqh Ibadah yang terbatas pada ashalat, puasa, zakat dan haji, fiqh muamalah mempunyai ruang lingkup yang luas dan bercirikan keluwesan serta flexible. Berikut perbadaan antara dua fiqh tersebut

asal hukum fiqh Ibadah adalah keharaman, berbedab dengan fiqh muamlah yang asal hukumnya adalah kebolehhan, artinya tiharamkan bagi seorang muslim untuk berkreasi dalam aspek ibadah ataupun berinovasi melakukan yang baru dalam ibadah atau dengan singkat adalah segala macam ibadah diharmkan kecuali ibadah yang diperintahkan Allah kepada hambaNya,contoh, dengan shalat subuh 1 rakaat dll, sedangkan dalam muamalah segala macam kegiatan dihalalkan atau dibolehkan selain yang dilarang Allah.

Dalam ekonomi Islam fiqh muamalah berfungsi sebagai perangkat tekhnis terhadap akad-akad yang terjadi . dengan kata lain ekonomi Islam lebih luas cakupannya dari fiqh maumalah sebagaimana pembhasan bab-bab sebelumnya.

Definisi dan Pengertian Fiqh

Secara bahasa, fiqh bermakna faham. Menurut istilah, Imam Syafii memberikan definisi yang komprehensif, “Al ‘ilmu bi al ahkaam al syar’iyyah al ‘amaliyyah al muktasabah min adillatiha al tafshiliyyah” Yakni mengetahui hukum-hukum syara’ yang bersifat amaliyah yang didapatkan dari dalil-dalil yang terperinci. ‘al ilm’ pada definisi ini bermakna pengetahuan secara mutlak yang didapatkan secara yakin atau dzanni. Karena hukum yang terkait dengan amaliyah ditetapkan dengan dalil yang bersifat qath’I atau pun dzanni.

Al ahkam bermakna tuntutan Allah sebagai pembuat hukum, atau khitab Allah yang terkait dengan perbuatan orang mukallaf, baik berupa kewajiban, sunnah, larangan, makruh atau mubah. Menurut ahli fiqh, yang dimaksud dengan khitab Allah adalah seperti kewajiban shalat, haramnya membunuh, mubah-nya makan dan lainnya.

Al syar’iyyah adalah hukum yang diambil dari syara’. Dengan demikian, terdapat pengecualian terhadap hukum-hukum yang bersifat hissiyah, seperti matahari bersinar, atau hukum-hukum eksakta, seperti dua ditambah 2 ada empat, atau hukum-hukum bahasa, seperti fa’il hukumnya marfu’ dan sebagainya.

Al ‘amaliyyah maksudnya yang berhubungan dengan amaliyah (aktifitas), baik aktifitas hati seperti niat, atau aktifitas lainnya, seperti membaca al Qur’an, shalat, jual beli dan lainnya. Batasan ini menafikan hukum-hukum yang bersifah I’tiqadi (aqidah), seperti mengetahui bahwa Tuhan itu esa, dan sejenisnya. Al muktasab artinya yang dihasilkan dari prosesi ijtihad ulama, dengan demikian, dikecualikan ilmu Allah, malaikat Allah, ilmu Rasul yang didapatkan dari wahyu. Al adillah al tafshiliyyah adalah dalil-dalil yang terdapat dalam al Qur’an, hadits, ijma’ atau pun qiyas.

Obyek pembahasan fiqh adalah tindakan orang-orang mukallaf, atau segala sesuatu yang terkait dengan aktifitas orang mukallaf. Adakalanya berupa tindakan, seperti melakukan shalat, atau meninggalkan sesuatu, seperti mencuri, atau juga memilih, seperti makan atau minum. Yang dimaksud dengan mukallaf adalah orang-orang baligh yang berakal, dimana segala aktifitas mereka terkait dengan hukum-hukum syara’ (Zuhaili, 1989, I, hal. 15-17).

Ruang Lingkup Fiqh

Ruang lingkup pembahasan fiqh sangat luas sekali, ia mencakup pembahasan tentang hubungan antara manusia dengan Tuhannya, manusia dengan diri pribadinya, atau manusia dengan masyarakat sekitar. Ilmu fiqh mencakup pembahasan tentang kehidupan dunia hingga akhirat, urusan agama atau pun negara serta sebagai peta kehidupan manusia di dunia dan di akhirat.

Untuk tujuan tersebut, hukum-hukum fiqh sangat terkait dengan segala aktifitas yang dilakukan oleh seorang mukallaf, baik berupa ucapan, tindakan, akad, atau transaksi lainnya. Secara garis besar dapat dikategorikan menjadi;

Hukum Ibadah (fiqh ibadah) yang meliputi;§ tata cara bersuci, shalat, puasa, haji, zakat, nadzar, sumpah, dan aktifitas sejenis terkait dengan hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.

Hukum Muamalah (fiqh muamalah) yang meliputi,§ tata cara melakukan akad, transaksi, hukum pidana atau perdata dan lainnya yang terkait dengan hubungan antar manusia atau dengan masyarakat luas

Untuk fiqh muamalah, pembahasan yang ada sangat luas, mulai dari hukum pernikahan, transaksi jual beli, hukum pidana, hukum perdata, hukum perundang-undangan, hukum kenegaraan, ekonomi dan keuangan, akhlak dan etika (Zuhaili, 1989, I, hal. 19-21). diambil dari Pengantar fiqh maumalah Dimyauddin

Perbedaan Fiqh Ibadah dan Muamalah 2

Dalam tulisan sebelumnya telah disebutkan satu perbedaan antara fiqh Ibadah dan muamalah,yaitu perbedaan dalam hukum asal, perbedaan lain diantar ke 2 fiqh tersebut :

1. fiqh Ibadah mempunyai karakter yang tetap, tidak berubah dan bersifat stagnan dalam pengertian bahwa tidak ada sesuatu yang baru dalam aspek ibadah, shalatdari zaman nabi hingga saat ini dan masa yang akan datang pasti sama, rakaatnya , macam-macamnya dan segala yang berhubungan dengannya, berbeda dengan fiqh muamalah yang bercirikan dinamis dan progresif, bayak didapatkan bentuk usaha saat ini yang belum pernah ataupun tidak sekomplex pada saat nabi Muhammad alaihissalam hidup, seperti perbankan, asuransi dll

2. Fiqh Ibadah tidak dituntut sikap kritis dan rasional, karena substansinay adlah keatatan kepada Allah, kita tidak perlu mengetahui rahasia shalat 5 waktu dalam sehari, haji harus dengan wukuf dll, tapi bentuk ketatan dan kepatuhan adalh yang paling utama (with no reserve), berbedad dengan Fiqh Muamalah yang bercirikan rasionalitas dan logis, buktinya adlah yang terlarang dalam praktek muamlah adlah segala bentuk transkasi yang merugikan dan mendatangkan mudharat kepada manusia, riba diharamkan karena bertentangan dengan nilai keadilan dan kemanusiaan.

3. fatwa dalam fiqh ibadah berdasrkan kehati-hatian, sedangkan fatwa dalam fiqh Muamalah berdasrkan aspek kemudahan, karena lingkup fiqh muamalah yang lebih luas dan berkembang

4. Ijtihad dalam Ibadah lebih sedikit dibandingkan Ijtihad dalam aspek muamalah

5. fiqh Ibadah tidak berkembang sedangkan fiqh Muamalah berkembang sesuai dengan perkembangan manusia dalam bermuamalah

About these ads